Bijak Menikmati Fiksi

Fiksi merupakan sesuatu yang banyak dinikmati orang karena memberikan sisi lain dari kehidupan manusia. Fiksi bisa penuh dengan cerita kehidupan manusia yang tidak sempurna menjadi sempurna. Ada pula fiksi yang mengisahkan frustasi manusia pada kehidupan. Segala yang tidak mungkin atau mungkin dalam hidup ini bisa tertuang dalam sebuah fiksi.

Menikmati fiksi dapat menghilangkan rasa penat sebagai pelarian dari kenyataan hidup yang pahit untuk sejenak. Dapat pula sebagai wujud dari manusia untuk mendapatkan kehidupan yang diinginkan.

Kebanyakan dari kita terjebak pada fiksi yang bisa melupakan realita kehidupan nyata. Biarkanlah fiksi tetap menjadi fiksi dan hidup adalah hidup. Fiksi yang menggambarkan hedonisme harusnya tidak membuat kita terlena dan bahkan mengikutinya. Banyak fiksi yang beredar di televisi maupun novel saat ini sarat dengan sesuatu yang menipu dan absurd. Seperti cerita tentang orang-orang biasa yang kaya mendadak tanpa usaha yang berarti atau menikah dengan orang kaya.

Mendapatkan sesuatu yang diimpikan tanpa usaha dan kerja keras merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin. Itulah belakangan ini yang sering menjadi ide cerita dalam fiksi. Mengharapkan sesuatu tanpa usaha dan hanya mengandalkan orang lain dan kebetulan adalah perbuatan yang harusnya dihindari tetapi malah dihidangkan kepada khayalak publik.


Mereka akan terlarut dalam fiksi dan akan membayangkan kehidupannya akan seperti dalam cerita tersebut. Padahal itulah yang harusnya tidak selayaknya ditiru. Lebih lebih fiksi yang dapat menjerumuskan seperti itu banyak dikonsumsi oleh remaja. Generasi muda yang masih dalam masa pencarian jati diri sangat rentan terhadap hasutan.

Perlunya memiliki kesadaran dan kebijaksanaan dalam menikmati fiksi yang banyak beredar agar tidak terlalu mengikuti apa yang ada dalam fiksi tersebut. Harus menjadi perhatian pula untuk para orang tua agar mendidik anak-anaknya untuk berpikir yang rasional dan menjauhkan fiksi yang seperti ini karena akan mempengaruhi masa depannya.