Orang Beragama yang Orang Baik

Sebelumnya mari kita simak cerita singkat berikut:

=> Ada seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Kemudian ada seorang nenek yang melihat dan memprhatikan lelaki tersebut dan merasa iba melihat kehidupannya. Timbulah niat nenek itu untuk membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan setiap hari, dengan tujuan agar lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

Setelah berjalan selama 10 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan menyuruh seorang wanita cantik. "Masuklah ke dalam pondok," katanya kepada wanita itu, "Peluklah ia dan katakan 'Apa yang akan kita lakukan sekarang'?". Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disuruh oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya. Wanita itu kembali pada si nenek dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah dan berkata "Percumah saya memberi makan orang itu selama 10 tahun," serunya. "Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu. Tapi setidaknya, setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama." <=

Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara orang yang taat beribadah dengan orang yang memiliki budi pekerti luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tidak menjamin perilaku seseorang.
Ada banyak contoh yang bisa dikemukakan. Kita sering mendengar ada kasus guru ngaji yang suka memperkosa muridnya, berita tentang video yang tidak layak dilakukan oleh saudari kita yang berjilbab rapi, ada juga saudara-saudara kita yang berkali-kali menunaikan umrah tetapi masih terus melakukan korupsi di kantornya dan lain sebagainya.

Dimanakah letak kesalahannya?
Menurut saya permasalahan utamanya adalah terletak pada kesalahan berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka orang beragama berarti sholat, puasa, naik haji dan sebagainya. Padahal cakupan beragama itu sangat luas, bukan hanya ritual keagamaan saja tetapi dibarengi dengan melakukan suatu perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk. Esensi agama yang sebenarnya terletak pada budi pekerti yang luhur, bukan hanya ritualnya saja.

Agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi menjadi kewajiban bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum, bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen. Padahal jika dipikir secara logika kita yang sebenarnya membutuhkan agama, membutuhkan panutan, membutuhkan Tuhan yang memberikan pedoman hidup melalui agama, apakah Tuhan Yang Maha Segalanya, Maha Mempunyai membutuhkan kita?

Jadi, kesalahan orang pada umumnya terletak pada cara berpikir dan sudut pandang terhadap ibadah atau beragama.

Hakekat keberagamaan sebenarnya adalah berbudi luhur. Maka orang yang beragama seharusnya juga menjadi orang yang baik karena telah mempelajari ajaran dalam agama tersebut. Semua itu ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.