Monyet dan Tuntutan Tuhan

Hari Minggu di taman kota. Taman itu, seperti biasa, sudah sangat ramai oleh beragam pengunjung dan penjaja barang juga jasa. Terlihat di sekelililing tak seperti biasa ada sesuatu yang membuat tak biasa alias luar biasa.

Banyak pesepeda dengan ragam sepeda dan jenis pilihan dandanan, seperti biasa. Ada juga para penjual makanan dan penjaja kudapan yang biasanya. Seperti biasa TOPENG MONYET! Topeng monyet dengan aksi-aksi akrobatiknya juga hadir menghibur pengunjung taman kota itu, sebentar, ini tak seperti biasa.

Ketika diperhatikan monyet itu didandani dengan baju dan celana berbahan cukup tebal. Pagi yang cukup panas itu, terbayangkan si monyet pasti merasa kegerahan di dalam kostumnya. Apalagi dia berbulu. Berbulu? Tunggu.. ini yang membuat si topeng monyet kali ini tidak biasa.

Tiba-tiba terpikirkan kondisi binatang-binatang lain. Kilasan video klip banyak binatang silih berganti melintas dalam benak. Sebagian besar berbulu, sebagian lagi bercangkang, dan sebagian lagi bersisik. Semua diberi sesuai dengan tempat dimana seharusnya mereka berada. Inilah yang luar biasa.

Monyet - tidak pakai "loe" - dan binatang-binatang lain tidak diharapkan (baca: tidak dituntut) Tuhan untuk mampu beradaptasi dan berkreasi secara luar biasa terhadap perubahan-perubahan di lingkungan tinggalnya. Mereka dianugrahi pelindung, berupa bulu, cangkang, dan lain sebagainya, sesuai dengan lingkungan mereka. Sementara manusia di anugrahi kulit seperti milik kita, yang manusia, karena kita diharapkan untuk berusaha sendiri menemukan jalan keluar atas situasi yang kita milikii! Kita dituntut untuk BERDAYA!

TUHAN INGIN (mengharapkan, menuntut) KITA BERPIKIR, MENGGUNAKAN OTAK KITA UNTUK MENGELOLA BINATANG-BINATANG ITU, TUMBUH-TUMBUHAN, ALAM, SERTA MENJADI PEMIMPIN DUNIA, DENGAN TERLEBIH DAHULU MEMIMPIN DIRI SENDIRI! Dan semua itu harus kita lakukan untuk manfaat serta kebaikan kita dan itu akan menjadi bukti pengabdian kita pada Ilahi.

Monyet kepanasan di dalam baju tebalnya telah menyadarkan siapa kita ini. Monyet itu tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dipaksa berbaju tebal oleh tuannya. Ia tidak seharusnya berbuat apa-apa. Tuhan tidak menuntutnya untuk berbuat apapun. Ketika ikan-ikan di sungai mati gara-gara air sungai tercemar, ikan-ikan itu tidak perlu dan tidak harus berbuat apapun untuk menjernihkan sungai. Tuhan tidak memerintahkan mereka melakukan itu. Ketika hewan-hewan ternak di daerah kering kelaparan, Tuhan tidak meminta mereka untuk berusaha kreatif mencari solusi. Mereka BOLEH diam saja. Mereka BEBAS menerima keadaan.

Jika kamu kelaparan dan kesulitan, kamu tidak harus berusaha.. wooy..!! Apakah kamu hewan? Kita tidak berbulu disekujur tubuh - hanya ditempat-tempat penting saja.. seperti kepala, atas mata dan bibir misalnya -, dan kita tidak bercangkang atau bersisik. Kita bukan binatang! Ini artinya kita hidup dalam tuntutan Tuhan untuk selalu memperbaiki keadaan diri kita agar bisa juga memperbaiki keadaan di luar diri kita. Dengan demikian kita bisa menjalankan tugas sebagai pemimpin dan mengemban amanat dari Tuhan atas dunia ini. Itu artinya kita memenuhi tugas sebagai bukan hewan. Hanya dengan demikian kita telah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta.

Monyet itu sebenarnya telah menunjukkan kepada kita jati diri kita yang sebenarnya. Menyadari perbedaan arti bulu, cangkang, sisik binatang dengan kulit manusia membuat kita merasa malu karena membiarkan diri larut oleh perasaan. Kita harus kembali menjalani hari sebagai pemimpin dunia. Kita harus berkarya. Kita harus kembali menebar manfaat, sedikit atau banyak, karena manusia dan manusia dituntut untuk melakukan itu semua.

Bila saat ini kita masih belum bergerak untuk merubah keadaan, maka kita sedang menjalankan peran yang keliru. Jika saat ini kita sibuk merutuki nasib yang tidak berpihak pada kita, ini artinya kita sedang "membajak" fungsi para monyet dan binatang lainnya. Seandainya saat ini kita masih enggan memfungsikan otak kita untuk kebaikan dan perbaikan, maka kita sedang mengambil jatah pekerjaan para monyet dan binatang yang lain. Jelas itu bukan tindakan yang MANUSIAWI.

Tindakan yang manusiawi adalah tindakan yang mencerminkan potensi kemanusiaan kita, yaitu daya cipta dan kreasi. Tindakan yang manusiawi adalah tindakan yang selaras dengan tuntutan Ilahi. Tindakan yang manusiawi adalah tindakan yang mencermikan penghargaan kita terhadap kepercayaan Tuhan telah memilih kita sebagai pemimpin dunia, peran yang tidak bisa dan tidak mampu dijalani oleh mahluk Tuhan yang lain. Kita adalah manusia. Tuhan mempunyai tuntutan khusus untuk manusia. Ayo menjadi manusia, sekarang juga!