Menghadap Kematian

Ternyata, kebiasaan melepas kepergian sanak saudara ke tempat yang jauh, misalnya, melepas keberangkatan calon jamaah haji, dengan menyelenggarakan acara perayaan perpisahan, walimah safar, tidak hanya terjadi di Indonesia. Masyarakat di negara inggris raya, juga memiliki kebiasaan seperti ini, tatkala sanak saudara mereka, hendak bepergian jauh melintasi samudera atlantik, merantau ke amerika serikat. Malamnya, mereka berkumpul dengan calon perantau, sebuah acara perpisahan yang mereka sebut dengan istilah, menunggui jenasah amerika. Seakan-akan, sang calon perantau, tidak akan pernah pulang lagi ke tanah air, bagaikan melayat orang yang sudah meninggal.
Bagi keluarga pak adil, jangankan bepergian jauh, berpisah hanya beberapa jam saja dengan anggota keluarganya, mereka akan memperlakukan seakan-akan bakal saling tidak bertemu lagi. Ketika melepas anak-anaknya berangkat ke sekolah, pak adil akan mencium dan mengusap kepala masing-masing anak-anaknya, meminta maaf, memandangi mereka lekat-lekat dengan penuh kasih sayang, sambil mempersiapkan diri dan menata hati, seandainya hari ini menjadi hari terakhir pertemuan pak adil dengan mereka. Bila bepergian jauh sendirian, terutama pada perjalanan yang melibatkan moda transportasi pesawat terbang, pak adil akan memperbaharui catatan hutang-piutang dan menginformasikannya kepada bu adil. Begitulah cara pak adil, memperkenalkan kematian kepada seluruh anggota keluarganya, hingga semuanya merasa akrab dengannya. Pak adil memahami, bahwa kehidupan ini sesungguhnya sedang bergerak menuju ke arah kematian. Entah kapan dan dimana, setiap manusia pasti akan menjumpainya. Sesekali, mereka lupa dengan kematian, terutama, pada malam hari, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di atas ranjang besi tua yang sudah reyot, berbincang-bincang, saling bercanda, bahkan, saling mengejek dan meledek. Acara yang mereka sebut sebagai, majelis ranjang reyot, menjadi momen keluarga yang paling membahagiakan. Kesembilan anaknya akan menyesuaikan diri, mengambil posisi di atas ranjang yang, meski telah reyot, namun ukurannya luas. Seperti biasa, pak adil akan memuji anaknya satu-persatu, atas prestasi yang mereka buat, sesederhana apapun. Malam itu, tidak seperti biasanya, pak adil menjadi agak pendiam. Si sulung, yang akrab dipanggil, kakak, yang sudah kelas enam SD, menyatakan keinginannya untuk bersekolah di pesantren di luar kota, boarding school. Selama ini, pak adil berpisah dengan anaknya, hanya dalam hitungan jam saja. Sekarang, pertahanan hatinya sedang diuji, bagaimana kalau berpisahnya dalam hitungan minggu, bahkan bulan, hingga tahun. Si sulung nampaknya memahami perasaan bapaknya. Ayah, bukankah selama ini ayah telah mendidik kami untuk mengakrabi kematian. Pak adil mengangguk, membenarkan. Bukankah kematian menjadi pintu masuk bagi kita, untuk bertemu dengan Alloh, lanjut si sulung. Pak adil masih diam, menyimak perkataan si sulung. Kakak ingin menolong ayah, agar ayah bertemu Alloh dengan perasaan bangga, lantaran anaknya menjadi penghafal Al Qur An, jelas si sulung. Pak adil tak kuasa menahan air matanya, demi mendengar penjelasan si sulung. Malam itu, pak adil merasa menjadi orang tua yang paling bahagia di dunia ini.